Bamby senang sekali sebab pada liburan sekolah tahun ini mama dan papa mengajaknya berlibur ke rumah kakek. Rumah kakek terletak di perkampungan yang penuh pohon-pohon rimbun dan hijau di pedalaman Sumatera. Tidak jauh dari halaman belakang rumah kakek, mengalir sungai yang jernih dan bersih. Di sungai itulah kakek sering mengajak Bamby memancing ikan.
“Kek, sungainya jernih sekali,” kata Bamby.
“Iya, Bamby. Penduduk tak pernah merusak hutan di hulu sungai. Itu sebabnya, sungai ini bersih dan jernih,” jawab kakek lembut.
“Oh, iya? Kenapa begitu, Kek?”
“Karena mereka menyayangi sungai, Bamby. Mereka tak mau membuat sungai bersedih.”
“Memang sungai bisa bersedih, Kek?”
"Kamu mau mendengar cerita tentang sungai yang bersedih?” tanya kakek.
“Iya, Kek, aku mau dengar!” seru Bamby penasaran.
“Dulu...,” kakek memulai ceritanya, “Penduduk kampung senang menebang pohon dan membuang sampah ke sungai. Sungai menjadi keruh. Sungai pun bersedih.”
“Kenapa penduduk melakukan perbuatan itu, Kek?”
“Saat itu mereka belum tahu, Sayang. Mereka belum tahu kalau perbuatan mereka itu membuat sungai bersedih. Sungai sering bercerita ke awan-awan yang datang membawa hujan. Awan-awan pun turut sedih dan menangis. Saat awan-awan sedih, hujan deras pun turun,” jawab kakek.
"Kamu tahu, Sayang? Pohon-pohon berguna untuk menyimpan air. Air hujan yang turun akan tersimpan di akar-akarnya. Karena pohon-pohon sudah banyak ditebang penduduk, tidak ada lagi yang bisa menyimpan air hujan. Jadi, saat hujan turun, sungai tak sanggup menahan air yang berlimpah. Rumah-rumah, sawah, ladang, dan penduduk pun hanyut terbawa arus.”
“Itu semua karena penduduk menebang pohon dan membuang sampah ke sungai ya, Kek?” tanya Bamby sedikit takut.
“Iya, Bamby. Akibat perbuatan mereka, sungai menjadi kotor. Gorong-gorong tersumbat oleh sampah dan air sungai pun meluapkan kesedihannya dengan mengirim banjir ke penduduk kampung yang tak merawat lingkungannya. Oleh karena itu, jangan menebang pohon dan jangan membuang sampah ke sungai. Perbuatan itu bisa membuat sungai bersedih.”
“Iya, Kek. Bamby berjanji tidak akan membuat sungai bersedih. Bamby akan bilang juga ke teman-teman agar jangan membuat sungai bersedih,” ucap Bamby dengan senyum bersemangat.
Kakek memeluk Bamby, “Bagus, Bamby. Itu baru cucu kesayangan Kakek.”
“Iya, Kek! Bamby sayang sungai! Bamby sayang sungai!” seru Bamby dengan lantang.